KUASAILAH DIRIMU DAN JADILAH TENANG (La matangkinko sia mainga’)
Bahan Khotbah Sabtu Sunyi, 15 April 2017
KUASAILAH DIRIMU DAN JADILAH TENANG
(La matangkinko sia mainga’)
| Mazmur | Mazmur 31:15-19 |
| Bacaan 1 | Ayub 14:1-14 |
| Bacaan 2 | 1 Petrus 4:1-8 |
| Bacaan 3 | Matius 27:57-66 |
| Nas Persembahan | Efesus 5:1-2 |
| PHB | 1 Petrus 4:7 |
Tujuan:
1. Jemaat menghargai kematian Kristus untuk hidup sebagai orang-orang yang di tebus.
2. Jemaat dapat menguasai diri dalam mengahadapi berbagai masalah kehidupan.
Pemahaman Teks
Adanya tekanan dalam hidup mengakibatkan seseorang merasa gelisah, tidak dapat tenang. Orang percaya yang tersebar di Pontus, Kapodikia, Asia, Galatia sedang mengalami tekanan yang muncul dari dalam dan dari luar. Banyak diantara mereka berperilaku yang tidak berkenan dihadapan Allah dan sesamanya. Tekanan dari luar ialah mereka sedang diburu untuk dibunuh, dianiaya, disiksa oleh orang-orang yang membenci mereka. Hidup mereka sunguh terancam dengan bayang-bayang kematian.
1 Petrus 4:1-8, Rasul Petrus menasihati orang percaya untuk menghadapi tekanan dengan ajakan menguasai diri dan jadilah tenang. Penguasaan diri dalam bahasa Yunani “Nefalios” yang berarti menahan diri, yang juga dapat dipahami sebagai perkembangan hati yang jelas dari orang percaya yang mulai dengan kepercayaan dan mencapai puncaknya dalam cinta kasih. Kemampuan menguasai diri akan membuat orang percaya dapat membangun hubungan komunikasi dengan Allah didalam doa. Hanya dengan berdoa orang percaya dapat tejaga dan mampu menata semua persoalan dengan baik. Rasul Petrus juga mengajak orang percaya untuk mengasihi seorang dengan yang lain. Meskipun banyak masalah, persoalan dan pergumulan hidup orang percaya harus melakukan kasih. Ketika Yesus akan disalibkan, berulang kali menasihati murid-murid-Nya “waktunya sudah dekat, kalian harus saling mengasihi” (bnd.Yoh 13:33-35). Kekuatan murid-murid terletak dari bagaimana mereka saling mengasihi. Waktu yang penuh tekanan dan menggelisahkan dapat dihadapi kalau memiliki kasih yang Tuhan berikan.
Ayub 14:1-14, mengisahkan tentang penderitaan yang dialami Ayub sungguh berat mengakibatkan ia berfikir untuk memilih jalan kematian sebagai cara untuk mengakhiri penderitaannya. Namun kemudian menemukan pengharapan dalam penderitaan berat yang dialaminya. Ayub percaya bahwa setelah mati dan memasuki dunia orang mati Allah akan memanggil dia keluar dari kubur. Dengan kata lain, Ayub mengungkapkan harapan akan kebangkitan pribadi. Dasar penantian yang penuh harapan ini, ialah kasih Allah yang sungguh-sungguh bagi umat-Nya. Ayat 15 menggambarkan: Engkau akan rindu kepada buatan tanganMu. Untuk sesaat Ayub menjangkau kepada Allah dengan ungkapan iman yang meluap-luap. Allah menghendaki agar semua orang percaya yang menderita dan tertindas dibumi ini mengetahui bahwa suatu hari kebangkitan dan kemenangan akan tiba dan mereka akan bersama-sama dengan Dia untuk selama-lamanya.
Matius 27:57-66, Yesus dikuburkan. Perasaan kehilangan sungguh dirasakan para murid. Emosi merengguk nalar dan kesedihan bisa meledak dalam bentuk apapun ketika melihat Yesus yang diharapkan justru menderita dan kemudian mati di kayu salib yang jasadnya di turunkan lalu dikuburkan. Namun, rupanya apa yang sudah terjadi pada Yesus saat itu belum memuaskan orang-orang yang membenci-Nya. Mereka masih meminta kepada Pilatus agar kubur Yesus dijaga oleh tentara selama tiga hari. Alasannya ialah: mereka takut kalau para murid membuat berita sensasi, yakni dengan mencuri mayat Yesus lalu menyebarkan berita bohong bahwa Yesus bangkit dengan bukti kubur telah kosong. dalam situasi seperti ini sering manusia hilang kendali.
Mazmur 31:1-4;15-16, Daud menaikkan doa yang sangat pribadi yang mengungkapkan kesusahan dan ratapan karena musuh. Daud memiliki pengharapan bahwa hidup dan matinya adalah didalam tangan Tuhan. Itu sebabnya dia berdoa kepada Tuhan bukan berarti tidak memiliki kelemahan dan kekurangan, melainkan karena pengenalan dan imannya yang teguh kepada Allah. Dalam situasi sulit yang dihadapinya, Daud tetap percaya dan mengandalkan Tuhan dengan keyakinan bahwa tidak ada kekuatan yang dapat merampas anak-anakNya. Ia akan menyelamatkan anak-anakNya karena kasih-Nya sehingga musuh mendapat malu dan bungkam, denagn demikian akan menikmati senyuman Tuhan bagi hidupnya. Singkatnya, pengakuan iman Daud ialah: “hidup dan mati-Nya ada di Tangan Tuhan”.
Pokok-Pokok Yang dapat dikembangkan dalam khotbah:
Pertama, hari ini kita mengenang situasi Yesus dalam kesendrian-Nya dalam makam-Nya. Ini adalah situasi yang sangat mendukakan para murid-murid Tuhan Yesus yang ditinggalkan sang guru yang telah memimpin, mengajarkan banyak hal dan mengayomi mereka. Semakin besar cinta kita kepada seseorang yang meninggalkan kita semakin cemas dan panic pula kita rasakan. Kepanikan membuat segalanya tidak dapat terorganisir dengan baik. Kita tidak dapat menghindarkan diri dari bayang-bayang maut entah sakit penyakit, musibah, penganiayaan, malapetaka. Hal yang bisa muncul adalah panik, gelisah, sama seperti yang dialami oleh murid-murid Tuhan Yesus saat Yesus benar-benar mati dan diletakkan didalam kubur. Saat itu para murid sungguh gelisah dan kehilangan janji-janji akan kebangkitan. Yang dirasakan adalah sunyi sepi dan tidak bergairah. Matius 27:61 mengatakan bahwa hanya Maria Magdalena dan Maria yang lain yang tetap berada di kubur Yesus saat itu. Bukankah gambaran seperti itu yang kita rasakan dikala kita berhadapan dengan bayang-bayang maut dan penderitaan? Seringkali kita lupa tentang janji penyertaan Tuhan. Demikian juga Ayub yang mengalami persoalan berat dalam hidupnya hampir lepas kontrol.
Kedua, menjadi pengikut Yesus tidaklah lepas dari penderitaan dan kesulitan hidup, Tuhan Yesus berkali-kali mengingatkan tentang hal itu. Petrus murid yang jatuh bangun dan sangat dekat dengan gurunya juga bersaksi tentang hal itu. 1 Petrus 4:15 mengatakan: Janganlah ada diantara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh, atau pencuri, atau penjahat atau pengacau. Juga dalam 1 Petrus 4:13, sebaliknya bersukacitalah sesuai bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Kematian Yesus membawa pengharapan bagi orang percaya. Yesus yang mati dan dikuburkan menyatakan tuntasnya pelaksanaan karya penyelamatan dalam kehidupan-Nya. Juga menjadi sebuah bukti kasih dan cinta Allah yang amat besar bagi manusia. Keheningan sabtu sunyi ini, kita dapat memperoleh pencerahan hidup sehingga kita dapat mengubah setiap kedukaan, kepahitan dan penderitaan menjadi sumber kekuatan, semangat dan daya juang untuk memaknai kehidupan dalam perspektif iman.
Ketiga, menguasai diri dan menjadi tenang ketika dalam badai kehidupan tentu tidak mudah. Ayub melihat penyertaan Tuhan melalui proses hingga dia melihat dengan imannya tentang penebusan dan kebangkitan orang-orang yang mati. Memang kematian tidak dapat dihindari oleh manusia tetapi selalu ada pengharapan bahwa akan ada kebangkitan orang-orang mati dalam Tuhan.
Keempat. dalam kondisi kalut dan teraniaya, kita mesti mampu menguasai diri dan tenang, karena masalah yang sesungguhnya terletak pada diri sendiri. Sebab itu, menguasai dan mengendalikan diri adalah kunci menyelesaikan masalah kita. Persoalannya adalah, bagaimana menguasai diri dalam kondisi panik dan gelisah? Menguasai diri berarti mampu menata semua persoalan dengan baik dan tidak mudah dikejutkan oleh berbagai masalah. Menguasai diri juga dapat berarti berlaku waras, tidak seperti orang yang tidak waras atau kerasukan dimana tidak tahu apa yang terjadi disekitarnya, tidak tahu siapa dirinya, berteriak-teriak dan perlakuan lain yang menunjukkan ketidakwarasan. Resep untuk menghadapi masalah hidup adalah, menguasai diri dan jadilah tenang supaya kita dapat berdoa. Penguasaan diri adalah jawaban dari segala kegelisahan supaya dapat berdoa. Hanya orang yang menguasai diri yang dapat berdoa dengan baik sehingga tahu petunjuk Tuhan. Demikian halnya dengan orang yang tenang dapat menghidupi nilai kerajaan Allah yang diterapkan dalam kehidupan (Life Value). Dengan demikian, kita tidak mengambil jalan pintas dalam menghadapi persoalan apalagi memilih mati untuk mengakhiri penderitaan. Daud ketika menghadapi ancaman dalam hidupnya ia selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan sehingga ia mendapatkan ketenangan dan penghiburan dari Allah. Itu sebabnya Daud merasa aman dalam lindungan Tuhan.
Diposting tanggal 27 Mar 2017
