KELAHIRAN YESUS MEMBAWA PERUBAHAN DALAM KELUARGA (Kadadianna puang Yesu umba kadiba'ruan lan pa'rapuan)
Bahan Renungan dalam Natal Keluarga, Sabtu, 24 Desember 2016
KELAHIRAN YESUS MEMBAWA PERUBAHAN DALAM KELUARGA
(Kadadianna puang Yesu umba kadiba’ruan lan pa’rapuan)
(Spiritual Mudik)
- Mazmur Pujian : Mazmur 96:7-13
- Bacaan 1 : Yesaya 8:23-9:6
- Bacaan 2 : Titus 2:11-14
- Bacaan 3 : Lukas 2:1-20 (Bahan Utama)
- Nas Persembahan : Matius 2:11
- PHB : Titus 2:15
Tujuan:
- Agar jemaat memahami bahwa Kelahiran Kristus membawa sukacita dalam perjumpaan keluarga.
- Agar jemaat memahami kaitan antara Natal dan Keluarga (tradisi mudik).
- Agar jemaat hidup mengalami dan menikmati perjumpaan Allah dalam keluarga (bnd. Kej 33)
Pemahaman Teks
Kelahiran Yesus Kristus adalah peristiwa terbesar dalam sejarah dunia. Merupakan sesuatu yang historis dan monumental, yang luar biasa dan agung. Silsilah Yesus Kristus hanya dituliskan dari garis keturunan Yusuf sesuai dengan adat budaya bangsa Yahudi. Meskipun Yesus dikandung dari Roh Kudus dan bukan benih biologis dari Yusuf, tetapi secara hukum ia adalah ayah Yesus. Hal ini selaras dengan janji Allah bahwa Mesias akan disebut sebagai keturunan Abraham dan Daud. (Kej 12:3; 2 Sam 7:12-19; Gal 3:16). Silsilah tersebut membuktikan kepada orang Yahudi kalau Yesus adalah benar “Mesias” yang dijanjikan Allah.
Sebelum Yesus lahir, Injill Lukas melaporkan bahwa terjadi sebuah peristiwa penting, yaitu sensus penduduk yang pertama kali diadakan atas perintah kaisar Agustus (kaisar Romawi), melalui Kireneus yang saat itu menjadi gubernur Siria. Saat itu Herodes menjadi Raja Yahudi (Luk 2:1-2). Peristiwa tersebut, mengharuskan semua orang wajib kembali ke kota dan keluarga asal mereka. Berita tentang sensus baru sampai kepada Yusuf sewaktu Maria mengandung tua. Maka Yusuf berniat pergi dari kota Nazaret menuju ke Yudea di kota Daud bernama Betlehem tempat ia dan keluarganya sebagai keturunan Daud. Yusuf kemudian pergi dengan Maria tunangannya untuk didaftarkan juga.
Adalah merupakan sesuatu yang luar biasa, bahwa mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh, kira-kira 90 km, diperkirakan ditempuh lebih dari tiga hari dengan melewati daerah tandus, kering dan berbukit-bukit serta menyeberangi sungai Yordan. Tentu merupakan penderitaan bagi Yusuf dan Maria yang sedang hamil tua. Semua dilakukan dengan kesetiaannya dan kerinduannya untuk daerah asalnya, tempat keluarganya tinggal. Beberapa hal yang menarik dengan kelahiran Yesus:
- Kelahiran-Nya mengubah pemahaman politik kaisar pada umumnya. Pada saat itu para gembala di padang dianggap rendah, namun Tuhan telah memilih mereka untuk menjadi manusia pembawa berita pertama tentang kelahiran Mesias (lih. Luk 2:1-20)
- Yesus lahir membawa damai sejahtera bagi dunia. Seperti yang dinubuatkan Nabi Yesaya bahwa akan lahir Raja Damai, seorang pelepas yang akan menuntun umat Allah kepada sukacita, damai sejahtera, kebenaran dan keadilan. Salah satu kebenaran tentang Mesias yang akan datang, adalah memperluas masyarakat umat Allah, terutama dengan memasukkan orang bukan Yahudi di dalam keluarga iman. Kelahiran-Nya mengubah gelap menjadi terang, kematian menjadi kehidupan (lih. Yes 8:23-9:6).
- Kelahiran Yesus adalah sebuah anugerah terbesar bagi dunia. Dia adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan manusia. Sebab itu setiap umat Allah yang telah menerima kasih karunia itu, mestinya belajar menjalani hidup anugerah Tuhan, yang bukan hanya menyelamatkan kita melainkan juga mengajarkan kepada kita cara menjalani kehidupan kristiani yakni menaati Firman Tuhan setiap hari. (Lih. Tit 2:11-14).
Pokok-pokok pikiran untuk renungan Keluarga:
- Hari raya Natal bagi umat Kristen adalah sebuah hari yang sangat penting. Jadi tidak heran kalau saat itu orang Kristen cukup memberi perhatian pada hari raya tersebut. Tidak terhitung jumlah materi yang harus dikeluarkan, waktu, pikiran dan tenaga diluangkan hanya untuk merayakan hari bersejarah ini. Hal ini menandakan betapa Natal itu sudah sungguh-sungguh merupakan sukacita besar bagi setiap orang Kristen. Di daerah Tana Toraja dan Toraja Utara kepadatan penduduk sangat terasa pada setiap bulan Desember. Selain itu berlangsung sekian banyak acara yang dilaksanakan baik rambu tuka’ maupun rambu solo’. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa peristiwa Natal selalu merupakan waktu yang digunakan oleh sebagaian besar orang Toraja perantau kembali ke kampung halaman masing-masing. Ini adalah peristiwa perjumpaan keluarga orang Toraja yang sebenarnya tidak pernah diperintahkan oleh kaisar mana pun.
- Sejarah tentang kelahiran Yesus Kristus, melaporkan bahwa pada saat itu masyarakat perantau juga masing-masing kembali ke kampung halaman mereka, tempat keluarga asal, walaupun sesungguhnya terjadi karena perintah pelaksanaan sensus oleh kaisar Agustus, namun menarik bahwa Yusuf dan Maria juga menyatakan kesetiaannya pada perintah dan walaupun mereka tidak punya banyak materi (Yusuf hanyalah sebagai perantau yang bekerja sebagai tukang kayu), tenaga (saat-saat yang tidak memungkinkan bagi Maria untuk menempuh perjalanan panjang), waktunya tidak diperhitungkan lagi. Seandainya Yusuf mau berhitung waktu bisa saja mengatakan la diapari tu sule tu to bitti’ (kita juga hanya orang biasa), tangabu’ bangpa misa’ passanan kayunna tau dimangkai (lumayan, masih bisa mengerjakan sesuatu). Tapi hal itu tidak menjadi halangan bagi mereka untuk menyatakan bahwa mereka juga mengenal kampung kelahirannya, memerhatikan hubungan kekeluargaan, sehingga mereka juga kembali ke Betlehem walau harus dengan segala pengorbanannya. (Pengkhotbah dapat mengaitkan dengan para perantau yang tidak lagi peduli tentang daerah asal mereka dan jika ada yang mengabaikan hubungan kekeluarganya).
Ilustrasi:
- Suatu waktu ada seorang yang pada masa kecil sungguh-sungguh menjadi teman yang akrab. Di sebuah kesempatan salah satu di antarannya mendapat panggilan kerja di sebuah kota besar dan dalam perjalanan kariernya ia menjadi seorang yang berprestasi akhirnya perusahaan mengangkat dia sebagai manajer perusahaan. Teman karibnya tinggal di kampung dan pekerjaan sehari-harinya adalah petani. Pada satu ketika tepat pada bulan Desember sekitar dua puluh tahun teman yang sukses ini kembali ke Tana Toraja. Mereka mengadakan ibadah pengucapan syukur dan temannya yang tinggal di kampung itu juga hadir. Dengan pengharapan dan sukacita bahwa ia dapat bertemu dengan kawannya yang sudah sukses ini dan bercerita masa lalu bersama. Sayangnya pada pertemuan tersebut teman yang bekerja sebagai petani ini langsung berdiri dan memeluk kawannya tetapi justru kawannya yang sukses itu merespons dengan wajah yang seolah-olah bingung dengan ungkapan, “siapa ya?” Dengan sangat malu kawannya yang petani ini langsung pulang.
- Perjumpaan keluarga pada hari Natal seharusnya menjadi waktu yang akan membuat keluarga Kristen dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera. Segala bentuk permusuhan akan berakhir pada kesempatan itu, setiap benci, dendam, dan iri hati harusnya disingkirkan sebab pada momen tersebut keluarga Kristen harus menghayati bahwa Yesus Kristus lahir sebagai Raja Damai seperti yang dijanjikan oleh Allah dalam Yesaya 8:23-9:6. Sebab itu kiranya menjadi kesempatan bagi mereka yang pulang kampung membawa pemikiran-pemikiran baru yang dapat menciptakan hubungan kasih yang sungguh bagi setiap anggota keluarga.
- Bagi Yusuf dan Maria, setibanya di daerah asalnya ternyata tidak mendapat lagi tempat walau ia harus melahirkan Mesias, Raja Damai itu. Dapat dibayangkan bagaimana kepekaan hati orang dan belas kasihan orang-orang yang lagi berkumpul dalam kepadatan dengan sukacita bersama keluarganya dan sekampungnya saat itu. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing sementara ada seorang warga daerah yang sedang kesakitan menginginkan tempat untuk bersalin. Mungkin bahwa Yusuf dan Maria tidak terlalu mendapat tempat karena mereka tidak terkenal dan hanya sebagai perantau tukang kayu. (Pengkhotbah dapat menyesuaikan dengan keadaan di mana biasanya orang-orang tidak terpandang diabaikan, hanya sibuk mengurus orang-orang yang dianggap terkenal dan punya banyak).
- Perjumpaan keluarga Allah pada peristiwa Natal, haruslah menjadi kesempatan bagi setiap keluarga Kristen untuk memahami bahwa Kasih karunia Allah bukan hanya menyelamatkan kita tetapi sungguh-sungguh mengajarkan kepada kita cara menjalani kehidupan Kristen yang benar, yakni mendidik orang-orang percaya untuk secara meyakinkan menolak hawa nafsu, kesenangan dan nilai-nilai jahat pada zaman sekarang dan menganggapnya najis. (bnd. Tit 2:11-14). Dengan demikian harusnya pada perjumpaan keluarga Kristen dapat menghilangkan keinginan-keinginan hawa nafsu, kesenangan pribadi dan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan pengajaran firman Allah sebagai sesuatu yang najis. Seperti: Pemborosan yang tidak membangun, judi, pesta pora yang membuat tempat bagi penghayatan makna kelahiran Yesus terabaikan.
Aplikasi:
- Arus mudik menjadi sebuah tradisi orang Toraja setiap tahun pada hari raya Natal. Sayangnya seringkali perjumpaan keluarga pada saat itu tidak terarah, dan lebih pada kegiatan-kegiatan upacara kedukaan (Rambu solo’). Sehingga lebih banyak waktu, materi dan tenaga yang dihabiskan hanya untuk hal-hal tersebut. Yang menjadi soal adalah bagaimana menghayati kelahiran Mesias, Raja Damai pada kesempatan yang sangat berharga tersebut. Masihkah ada tempat bagi perayaan sukacita merayakan kasih karunia Allah sekaligus belajar memahami apa kehendak Kristus dalam hidup secara kekeluargaan.
- Dalam perjumpaan Keluarga itu, sejauh mana kita saling memedulikan tanpa memandang apa dan siapa kerabat kita itu. Kekhawatiran kita adalah jangan sampai justru dalam kondisi seperti itu kesenjangan sosial semakin diperkuat. Dan yang menonjol adalah hawa nafsu, keserakahan dalam rangka aktualisasi diri.
- Yesus tidak mendapatkan tempat yang layak untuk lahir. Tapi walaupun seperti itu, justru ada hal lain yang luar biasa bahwa Malaikat Tuhan bersukacita di tempat itu dan bahkan orang Majus sekalipun hadir dengan sukacita menyaksikan kelahiran-Nya. Sebab itu biarlah Natal pada kesempatan ini semakin menguatkan iman kita bahwa dalam ketidaklayakan kita di mata sesama, Tuhan masih memedulikan kita. (YM)
Diposting tanggal 19 Dec 2016
