Kamis 22 Februari 2018 Roma 3:21-31 DI BENARKAN BUKAN MERASA BENAR
Kamis 22 Februari 2018 Roma 3:21-31
DI BENARKAN BUKAN MERASA BENAR
Apa itu kebenaran? Secara filosofi kebenaran adalah adanya kesesuaian antara apa yang ada dalam pikiran dengan kenyataan. Jika dalam pikiran 1+1=2, dalam kenyataan hasilnya memang 2, maka itu kebenaran. Tetapi, jika dalam pikiran istri, suaminya pergi tongkon, tetapi dalam kenyataan, dia pergi massaung/nyabung, maka di sana ada ketidakbenaran.
Inilah yang Paulus katakan dalam ayat 23 “semua orang telah berdosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Ya, dalam rancangan Allah di taman eden (kej.2), manusia itu menuruti Allah. Tapi faktanya, manusia melawan perintah Allah. Alhasil, manusia tidak pernah lagi terlihat benar di hadapan Allah. Paulus kemudian menegaskan bagi jemaat Roma, hanya oleh kasih karunia, manusia di benarkan dengan cuma-cuma (ayat 24). Di benarkan cuma-cuma bukan karena melakukan hukum taurat, baru di benarkan. Tetapi karena manusia tidak lagi mampu melakukan kebenaran, maka darah Kristus sendiri, yang menjadi pembenaran bagi manusia (ayat 25). Karenanya, tidak ada alasan bagi jemaat untuk bermegah, bahwa mereka telah hidup benar (ayat 27). Mereka semata-mata dapat bermegah, di dalam Kristus mereka di benarkan dan tidak merasa benar.
Allah membenarkan kita meskipun kita tidak layak dibenarkan. Pembenaran itu di lakukan Allah dengan darah yang mahal. Karena itu, sikap yang harus tumbuh adalah hidup rendah hati, mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita. Jangan merasa, bahwa karena kita banyak mengerjakan ini itu di hadapan-Nya, maka Dia layak membenarkan kita. Kita di benarkan, karena darah tebusan-Nya yang mahal itu, telah di berikan tanpa syarat. Dia tidak memberikannya, karena Allah melihat kita benar. Namun karena Dia melihat kita berdosa, maka Dia membenarkan dan melayakkan kita, melalui Yesus Kristus. Amin
Diposting tanggal 17 Feb 2018
