DARAH-NYA MEMULIHKAN (Ia tu Rara-Na Mepamaleke)
Bahan Khotbah Jumat Agung, 14 April 2017
DARAH-NYA MEMULIHKAN
(Ia tu Rara-Na Mepamaleke)
| Mazmur | Mazmur 22:1-12 |
| Bacaan 1 | Yesaya 52:13-15 dan 53:1-12 |
| Bacaan 2 | Ibrani 10:16-25 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Yohanes 19:28-42 |
| Nas persembahan | 1 Petrus 1: 18-19 |
| PHB | Ayub 8:5-7 |
Tujuan:
1. Jemaat memahami makna kematian Kristus
2. Jemaat Menghayati kematian Kristus sebagai orang-orang yang ditebus.
Pengantar
Jika mau meringkas PGT tentang dosa, maka dosa adalah rusaknya relasi. Pemutusan hubungan yang benar dengan Allah yang berakibat pada rusaknya hubungan dengan sesama manusia dan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya. Akibat dosa ialah maut. Tetapi maut adalah salah satu musuh saja dari semua yang telah mengakibatkan hidup ini terpisah dari Allah. Paulus berkata, “Musuh yang terakhir yang dibinasakan ialah maut” (1 Kor. 15:26). Sebelumnya ada musuh-musuh yang lain. Boleh dikatakan, seluruh hidup Yesus adalah hidup untuk mengalahkan semua hal yang telah membuat hidup ini terpisah dari Allah. Dan semua hal itu adalah memulihkan relasi. Relasi dengan sesama dan relasi dengan seluruh ciptaan. Dan pada akhirnya, Salib adalah simbol jembatan yang berdiri di antara dua jurang yang memisahkan manusia dengan Tuhan yang tidak mungkin dijembatani oleh manusia. Salah satu ajaran iman Kristen yang sangat penting adalah bahwa akibat dosa itu adalah keterpisahan total dari Allah. Manusia ingin kembali tetapi tidak mungkin. Tetapi manusia menderita di dalam keterpisahan itu. Akibat dari keterpisahan manusia dengan Allah, digambarkan dengan sangat baik oleh Daud dalam Mazmur 22, perasaan ditinggalkan Allah, penderitaan karena ditinggalkan Allah.
Manusia rindu kembali kepada Tuhan karena manusia adalah Gambar Allah. Suara Tuhan “di manakah engkau” dalam Kejadian 3:9 terus memanggil, dan manusia mendengar suara itu, tetapi manusia tidak tahu bagaimana kembali kepada suara yang memanggil itu. Lalu bagaimana manusia bisa kembali kepada yang memanggil “di manakah engkau” itu?. Pdt. Stanley Jones, sang penginjil yang banyak mempelajari agama-agama lain sebelum menginjil yang kemudian memberikan kesimpulan yang sangat penting, yang sekaligus menjelaskan letak perbedaan hakiki antara agama Kristen dan agama-agama yang lain. Stanley Jones berkata, “semua agama-agama adalah hasil usaha manusia mencari Tuhan, tetapi Injil adalah hasil usaha Tuhan mencari dan menemukan manusia.” Perhatikan “semua agama-agama adalah hasil usaha manusia mencari Tuhan” di situ tidak ada kata “menemukan”. Itu artinya Stanley Jones berkesimpulan bahwa semua usaha itu tidak akan membawa manusia pada penemuan Tuhan yang sesungguhnya. Lalu apa yang ditemukan? Karl Barth, theolog kenamaan Jerman abad ke-19 itu mengatakan, “manusia mencari Allah yang satu tetapi menemukan “allah” yang banyak”. Itulah sebabnya Karl Barth berkesimpulan bahwa semua agama-agama, termasuk agama Kristen kalau berpikir seperti itu adalah unglauben (unbelief, ketidakpercayaan). Lalu bagaimana mestinya manusia kembali kepada suara yang terus memanggil itu, “di manakah engkau?” Bagaimana memulihkan hubungan yang rusak itu?
Pemahaman Teks
Yang jelas, hubungan itu hanya bisa dipulihkan oleh Allah sendiri. Tidak mungkin lagi oleh manusia. Dengan pemulihan itu, kita dapat menghadap Allah kembali, Sang suara yang terus memanggil itu. Hal itu tergambar dalam bacaan kita. Bahwa pada zaman Perjanjian Lama, setiap orang tidak dapat masuk ke dalam kemah pertemuan jika tidak membawa kurban yang diwajibkan. Dan setiap orang tidak dapat menghadap Allah selain dari Imam yang telah ditetapkan oleh Allah. Imam ini berfungsi sebagai perantara antara umat dengan Allah. Berbeda halnya pada zaman Perjanjian Baru, terjadi sebuah perubahan/reformasi besar-besaran dimana setiap orang dapat menghadap Allah tanpa harus melalui perantara. Ada tiga aspek yang ditanyakan sehubungan dengan perubahan untuk menghadap Allah yang terjadi dalam Perjanjian Baru, yaitu:
a. Apa dasar kita untuk dapat berjumpa kembali dengan Allah?
b. Bagaimana sikap kita untuk datang menjumpai Allah?
c. Bagaimana kehidupan sosial kita setelah berjumpa dengan Allah?
Apa yang menjadi dasar kita untuk dapat menjumpai Allah? (ayat 19-21). Dasar kita adalah pengorbanan Yesus Kristus. Oleh darah Kristus Allah menebus manusia untuk diperdamaikan kembali dengan diri-Nya. Dengan darah Kristus itu penulis Kirab Ibrani mengatakan:
Pertama: Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus (ayat 19). Semua bermula dari dosa. Dosa telah menyebabkan manusia terpisah dari Allah. Dosa memngakibatkan kita tidak dapat menghadapt Allah yang maha kudus. Bahkan berhadapan dengan Allah yang Kudus, akibatnya adalah mati. Untuk itu diperlukan sebuah sarana sebagai perantara berupa kurban yang darahnya akan dipercikan sebagai pendamaian. Darah Yesus yang telah tercurah di kayu salib telah mendamaikan setiap orang percaya dengan Allah, dan telah menerima pengampunan dosa serta beroleh hidup yang menjadikan manusia bersekutu dengan Allah.
Kedua: Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri (ayat. 20).Dalam kemah pertemuan atau Bait Allah, terdiri dari beberapa bagian bilik yang tidak dapat dilanggar. Jemaat hanya dapat sampai di bilik depan, kemudian ruang kudus untuk para imam, dan ruang Maha Kudus adalah tempat dimana Tabut Allah ada. Antara ruang kudus dan ruang maha kudus, terbentang tabir dari atas sampai ke bawah sebagai pembatas dan ruang maha kudus hanya boleh dimasuki oleh imam kepala sekali dalam satu tahun. Jalan, tabir, dan tubuh sesungguhnya memiliki pengertian yang sama. itulah sebabnya Yesus berkata “Akulah jalan…”. Kematian Tuhan Yesus telah membuat tabir dalam bait Allah terbelah menjadi dua dari atas ke bawah, yang berarti bahwa tubuh itulah jalan sehingga tidak ada lagi pembatas bagi manusia untuk dapat menghadap
Ketiga: Yesus Imam Besar sebagai kepala rumah Allah (ayat 21). Imam besar adalah seseorang yang bertugas memimpin upacara suci dengan membawa korban untuk dipersembahkan kepada Allah supaya Allah mengampuni dosa para umat. Imam juga disebut sebagai jurubicara antara manusia dengan Allah dan sebaliknya. Tuhan Yesus adalah imam besar kita yang oleh kematiannya telah menjadi korban bagi dosa-dosa manusia, memimpin orang percaya dan membawa manusia kepada Allah untuk dipulihkan hubungannya dengan Allah dan diperdamaikan. Dan sebagai kepala, ini berarti bahwa ada sebuah keteraturan dan kedisplinan dalam menghadap Allah. Yesus sebagai kepala telah meninggalkan hal itu untuk diteladani oleh orang percaya dalam menghadap Allah.
Pokok-pokok yang dapat dikembangkan
Penderitaan dan kematian Kristus sebagaimana dikisahkan dalam Yoh.19:28-42 adalah jalan Allah sendiri untuk datang mencari dan menemukan manusia untuk dipulihkan. Karena itu:
1. Hanya oleh karena darah Yesus setiap orang percaya dapat dengan berjumpa kembali dengan Allah.
2. Hanya Yesus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup. hanya melalui Yesus, setiap orang percaya dapat datang kepada Bapa.
3. Hanya Yesus adalah Imam Besar yang memimpin orang percaya dan membawa manusia berjumpa kembali dengan Allah.
4. Keteraturan dan kedisplinan harus ada dalam diri orang percaya untuk menghadap Allah.
Untuk itu perlu ditegaskan:
a. Dasar kita untuk berani menghadap Allah adalah karena Yesus, yaitu: Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan Yesus Imam Besar sebagai kepala rumah Allah. Semuanya itu sudah dinubuatan oleh Nabi Yesaya dalam Yesaya 52:13 sampai 53:12. “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.” (Yesaya 53:4-6).
b. Sikap kita untuk datang menghadap Allah, yaitu: hati yang tulus ikhlas, dengan keyakinan iman yang teguh, dan pengharapan yang teguh dengan Yesus. Hati yang tulus ikhlas yang sudah dibersihkan dan sudah dibasuh dengan air yang murni yaitu oleh darah Yesus memungkinkan orang untuk dapat menghadap Allah dan menikmati persekutuan bersama dengan Allah. Hanya dengan keyakinan iman yang teguh kepada Yesus kita dapat dengan berani menghadap Allah. Hanya dengan pengharapan yang teguh kepada Yesus kita dapat mematahkan segala bentuk tantangan saat menghadap Allah.
c. Kehidupan sosial kita setelah menghadap Allah, yaitu: kita akan saling memperhatikan, saling mendorong dalam kasih, saling mendorong dalam pekerjaan baik, dan saling menasehati untuk tidak meninggalkan ibadah.
Diposting tanggal 27 Mar 2017
