Bahan Khotbah Minggu ke-15 Tanggal 15 April 2018 BERSAKSI TENTANG KUASA KRISTUS (Umpessa`bian KuasanNa Kristus)
Bahan Khotbah Minggu ke-15, Tanggal 15 April 2018
BERSAKSI TENTANG KUASA KRISTUS
(Umpessa`bian KuasanNa Kristus)
| Bacaan Mazmur | : Mazmur 4:1-9 |
| Bacaan 1 | : Kisah Para Rasul 3:12-20 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | : 1 Yohanes 3:1-10 |
| Bacaan 3 | : Lukas 24:36-48 |
| Nas Persembahan | : Mazmur 4:6 |
| Petunjuk Hidup Baru | : Kisah Para Rasul 3:19 |
Tujuan :
-
Jemaat memahami tentang Kuasa Yesus
- Jemaat menyatakan kesaksiannya tentang Kuasa Kristus yang menyembuhkan.
Pemahaman Teks
Mazmur 4:1-9 memberi penggambaran tentang bagaimana Daud bersaksi kepada orang-orang yang tidak mengenal Allah mengenai kebaikan Allah dalam suka duka hidup yang dijalani. Daud merasakan bahwa Allah mendengar dan peduli terhadap doa Daud, bahwa Allah telah memberi sukacita bagi orang-orang pilihan-Nya dan yang sungguh percaya pada-Nya. Kesaksian Daud adalah untuk mendorong orang-orang yang mengandalkan diri untuk berbalik kepada Allah
Kisah Para Rasul 3:12-20 mengisahkan kesaksian Rasul Petrus tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang dikemukakan lewat khotbah penuh kuasa di Serambi Salomo bait Allah di Yerusalem. Dengan tegas, Petrus bersaksi tentang siapa Yesus, yang adalah pemimpin kepada hidup, dan bagaimana mereka menolak dan memperlakukan Yesus karena ketidaktahuan mereka. Petrus yang telah dipulihkan dari kejatuhannya, dengan tegas bersaksi bahwa oleh kuasa Allah dalam Kristus, orang lumpuh dapat disembuhkan, dan oleh kuasa itu mereka bersaksi dan menyerukan pertobatan bagi mereka yang telah menyerahkan Kristus untuk dibunuh dan yang menolak kasih karunia Allah didalam Kristus, yang adalah Hamba Allah dan Mesias dari Allah.
1 Yohanes 3:1–7 merupakan kesaksian tentang identitas orang– orang percaya kepada Kristus di tengah-tengah realitas masyarakat yang cenderung mengandalkan akal mereka dalam memahami Kristus. Karena itu, dengan tegas Yohanes membeberkan tentang perbedaan sebagai anak-anak Allah yang berpengharapan dengan anak-anak Iblis yang terus menerus membiarkan diri mereka jatuh ke dalam dosa. Mereka diingatkan bahwa status sebagai anak-anak Allah, adalah kasih karunia yang menuntun kepada kebenaran sama seperti Kristus yang adalah pribadi yang benar. Kasih dan kebenaran adalah jati diri dari anak-anak Allah yang terus menerus mendorong mereka untuk tidak lagi berbuat dosa. Sebaliknya keberdosaan dan perseteruan adalah ciri orang-orang yang tidak mengenal Allah.
Lukas 24:36-48 mengisahkan perjumpaan Yesus yang bangkit dengan murid–murid-Nya yang sedang ketakutan, dan juga dengan Petrus yang dipenuhi rasa bersalah. Perjumpaan yang diawali dengan sapaan damai sejahtera sekaligus menghalau ketakutan, kecemasan dan rasa bersalah. Yesus menegaskan kepada murid-murid-Nya tentang kebenaran-Nya dan apa maksud Allah dengan semua yang telah Dia alami. Perjumpaan ini menjadi momen pemulihan kepercayaan para murid, sekaligus pengokohan keterpilihan mereka untuk mempersaksikan semua kisah yang Kristus alami sebagai Mesias yang harus menderita. Tugas kesaksian mereka mulai dari Yerusalem hingga kepada bangsa-bangsa lain. Pengalaman hidup bersama Yesus, menjadi kesaksian yang tidak boleh mereka diamkan.
Pokok Pikiran yang dapat dikembangkan
Dari keseluruhan teks bacaan di atas, benang merah yang merangkul semuanya dapat dikemukakan sebagai berikut:
-
Bersaksi adalah tugas perutusan Kristus kepada murid-murid-Nya. Masih sering terjadi, orang enggan untuk bersaksi tentang Kristus dan membatasi jalan pikiran mereka dengan anggapan: itu adalah tugas orang-orang tertentu. Mereka lupa bahwa sejak orang menjadi percaya, dibaptis dan belajar tentang Kristus, mereka adalah murid Kristus (Band Mat 28 : 19-20).
-
Yang dipersaksikan adalah tentang Kuasa Allah dalam Kristus. Godaan yang seringkali muncul dalam tugas kesaksian orang percaya ialah “penonjolan diri” dan bukan menonjolkan Kristus. Dalam bacaan-bacaan di atas ditekankan, bahwa yang menonjol dari kesaksian Daud dan Petrus adalah kuasa Allah dan kuasa Kristus yang memberi kekuatan, kemampuan, hikmat yang meneguhkan pengharapan untuk melewati berbagai situasi hidup bahkan untuk melakukan hal-hal yang mengherankan. Pesan Yesus kepada murid-Nya sangatlah jelas, bahwa mereka adalah saksi dari semua yang Dia alami, dan kemampuan untuk bersaksi itu adalah kuasa Allah dalam Roh Kudus, sebagai Pribadi yang Yesus janjikan untuk menyertai mereka.
-
Cara hidup yang benar sebagai anak-anak Allah adalah bentuk kesaksian. Khotbah dan pengajaran tentang iman, harapan dan kasih yang dimiliki oleh orang Kristen adalah hal yang penting untuk terus menerus diwartakan. Tetapi penting juga untuk diingat, bahwa cara hidup sebagai anak-anak Allah turut mempengaruhi kesaksian kita. Setiap orang percaya mesti sadar bahwa tujuan dari kesaksian adalah agar orang yang mengalami pertobatan memilih hidup dalam kebenaran seperti Kristus. Karenanya cara hidup yang benar dari orang percaya terhadap Kristus akan menolong orang lain untuk melihat bagaimana cara hidup yang seharusnya sebagai anak-anak Allah.
Diposting tanggal 12 Apr 2018
