Bahan Khotbah Minggu ke-43, 22 Oktober 2017 : MEMPERKENALKAN KEMULIAKAN ALLAH (Umpakalelean Kamala`biran-Na Puang Matua)
Bahan Khotbah Minggu ke-43, 22 Oktober 2017
(Minggu Pemuda)
MEMPERKENALKAN KEMULIAKAN ALLAH
Umpakalelean Kamala`biran-Na Puang Matua
| Mazmur | Mazmur 96:1-13 |
| Bacaan 1 | Yesaya 45:1-8 |
| Bacaan 2 | 1 Tesalonika 1:1-10 (Bahan Utama) |
| Bacaan 3 | Matius 22:15-22 |
| Nats Persembahan | Mazmur 96:8 |
| PHB | 1 Tesalonika 1:3-4 |
Tujuan:
1.Jemaat memahami bahwa kuasa Allah bekerja bagi siapapun
2.Pemuda Kristen dapat menggunakan kehidupannya untuk memberitakan kebenaran dan Injil Kristus kepada semua orang
Pemahaman Teks
1 Tesalonika 1:1-10 menjelaskan bahwa warga jemaat di Tesalonika adalah orang-orang yang sebelumnya menyembah berhala-berhala. Namun Tuhan telah memakai Paulus untuk mengabarkan Injil di sana (bdk. Kis. 16:4-12). Ternyata seperti orang di Filipi, maka orang Tesalonika pun memberikan respons positif terhadap pemberitaan Paulus. Pertobatan mereka menjadi kesaksian yang hidup ke seluruh Asia (ay.8-10). Injil yang datang dengan kuat kuasa Roh itu telah mengubah mereka (ay. 9), bahkan membuat hidup mereka dicirikan dengan tiga hal yakni pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan (ay.3). Sesunguhnya manusia tidak layak, namun keselamatan adalah kasih karunia Allah kepada semua orang. Pilihan membuat manusia tunduk diri dan meninggikan Allah saja. Pilihan membuat orang percaya aman, sebab keselamatan bukan tergantung pada dirinya tetapi pada Allah. Namun pilihan didukung oleh adanya bukti iman, pengharapam, kasih, pertobatan, kesaksian yang harus dinyatakan sebagai orang pilihan.
Paulus menaikkan rasa syukur kepada Tuhan karena iman warga jemaat Tesalonika telah menjadi berkat bahkan telah menjadi teladan bagi banyak orang. Hal itu nampak dalam ayat 7 dan 8 bahwa: “…kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya, Karena dari antara kamu firman Tuhan bergema bukan hanya di Makedonia dan Akhaya saja, tetapi di semua tempat telah tersiar kabar tentang imanmu kepada Allah, sehingga kami tidak usah mengatakan apa-apa tentang hal itu”.
Kebanggaan Paulus terhadap jemaat di Tesalonika terlihat jelas karena, jemaat ini memiliki iman, kasih, dan pengharapan (ayat 3). Inilah jemaat yang terbuka menerima Injil dengan penuh sukacita, justru di saat-saat penindasan (ay.6). Sukacita dan nilai-nilai Injil yang luhur tidak dinikmati sendiri, tetapi juga memancar keluar sehingga dikenal dan dinikmati banyak orang. Setidaknya seperti inilah jemaat yang misioner, kota yang di atas bukit, sehingga banyak orang mengenal dan memuliakan Tuhan karena mereka. Injil memancar di seluruh wilayah Makedonia dan Akhaya (ayat 8-9). Itulah sebabnya Paulus memuji jemaat Tesalonika. Namun, pujian Paulus ini tidak mutlak ditujukan kepada jemaat, untuk kemuliaan jemaat, karena tujuan pujian itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Segala ucapan syukur hanya tertuju kepada Allah (ayat 1). Sikap Paulus ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa: Pertama Paulus menunjukkan sikap seorang hamba Tuhan yang begitu memperhatikan perkembangan jemaat Tuhan, Kedua: kita diajak untuk mengakui bahwa sedikit sekali pemimpin jemaat yang memberikan pujian kepada jemaat yang diasuhnya. Kita lebih sering mendengar kritikan tajam dan kecaman pedas, bahkan terus menerus menganalisis semua kekurangan dan kelemahan secara gamblang.
Tidak dapat disangkal bahwa tidak ada jemaat sempurna. Tetapi masih banyak potensi positif yang dimiliki oleh gereja sebagai tubuh Kristus. Tuhan telah mempergunakan gereja sebagai alat-Nya dan begitu banyak orang yang telah menikmati hasil karya gereja. Begitu banyak orang yang telah menikmati ketenangan dan kedamaian hati; ibarat menemukan mata air di tengah-tengah padang pasir yang kering. Dengan tidak menutup mata terhadap semua kekurangan, adalah berdosa terhadap Roh Kudus kalau kita mengatakan sampai hari ini gereja tidak pernah berbuat apa-apa.
Dalam Yesaya 45:1-8 Umat Tuhan diingatkan bahwa hanya Tuhan yang dapat menciptakan keadilan. Untuk mewujudkan keadilan itu, Allah berkenan mengurapi Koresy yang walaupun bukan seorang Yahudi (raja Persia yang menaklukkan kerajaan Babilonia), dan tidak mengenal-Nya, namun Allah memakainya untuk melaksanakan kehendak-Nya, dan dijadikan-Nya alat dalam tangan-Nya. Melalui Koresy, Allah melakukan tindakan pembebasan terhadap umat-Nya dari tekanan bangsa-bangsa lain. Allah melakukan semua ini untuk mendemonstrasikan kedaulatan-Nya. bahwa tidak ada yang lain di luar Aku" (6). Melalui tindakan penyelamatan yang Allah kerjakan ini, bangsa-bangsa lain di luar Israel menyadari dan mengakui Allah Israel adalah satu-satunya Tuhan. Begitupun dengan Paulus yang walaupun bukan bagian langsung dari orang Tesalonika tetapi ia telah berhasil memperkenalkan Injil Kristus kepada orang-orang Tesalonika.
Mazmur 96:1-13 mengajak kita untuk merenungkan bahwa untuk hidup sebagai orang yang telah dipilih dan dibaharui dalam Tuhan, pemazmur mengajak kita untuk bermazmur menghormati Allah (1-2). Ajakan itu diwujudkan dalam bentuk “bernyanyilah bagi Tuhan, sekaligus merupakan ajakan untuk mengatakan bahwa katakanlah yang baik tentang Dia, agar kita dapat membawa orang lain untuk mengenal tentang tentang Dia." Nyanyikanlah nyanyian baru, adalah wujud dari perasaan-perasaan yang baru yang dibungkus dengan ungkapan-ungkapan baru. Bahwa lagu lama atau kehidupan lama perlu ditinggalkan agar kehidupan baru dalam persekutuan dengan Tuhan menjadi yang utama. Lagu baru diharapkan sebagai sesuatu yang membawa perubahan hidup
Matius 22:15-22 merupakan penegasan Yesus ketika menanggapi pertanyaan yang menjerat dari orang-orang Farisi yang mendapatkan dukungan dari orang-orang Herodian, yakni anggota-anggota suatu partai Yahudi yang menghendaki keturunan Herodes Agung yang memerintah atas mereka dan bukan gubernur Romawi. Mereka memperkirakan Yesus akan menjawab dengan 'ya' atau 'tidak' terhadap pertanyaan mereka (17). Yesus tahu maksud pertanyaan ini dan apa risikonya bila menjawab dengan salah satu di antara jawaban di atas. Jawaban 'ya' akan menimbulkan kemarahan mereka karena mengalami penderitaan di bawah jajahan Romawi, sedangkan jawaban 'tidak' akan memancing kemarahan pemerintah Romawi. Yesus menegur keras kejahatan dan kemunafikan hati mereka, serta dengan bijaksana menjawab pertanyaan mereka (18-21). Jawaban Yesus telah menggagalkan niat hati mereka yang jahat dan menelanjangi kemunafikan mereka (22). Pelajaran yang kita dapatkan dari perikop ini adalah pengajaran Yesus tentang keberadaan orang percaya yang seharusnya dapat menempatkan diri sebagai warga negara di bumi yang tidak mudah jatuh oleh berbagai tantangan dan ujian darimanapun. Dalam melakukan tanggungjawabnya di bumi orang percaya harus melakukan kewajibannya sebagai bentuk pengabdiannya kepada bangsa dan negara, sehingga peran sekecil apa pun yang mampu kita lakukan telah menjadi pemikiran kita di tengah masyarakat? Sebab apa yang kita lakukan di bumi semuanya dalam rangka pengabdian kita kepada Allah.
Korelasi keempat bacaan diatas, hendak mengajak kita untuk memahami bahwa Allah bekerja melalui orang yang dikehendaki-Nya untuk menyatakan kebenaran. Misalnya Paulus telah dipakai oleh Allah memberitakan Injil terhadap orang-orang Tesalonika sehingga orang Tesalonika mengenal kebenaran dalam Kristus, Bahkan Allah mewujudkan keadilan dengan mengurapi Koresy yang walaupun bukan seorang Yahudi, namun Allah memakainya untuk melaksanakan kehendak Allah sendiri, dan dijadikan-Nya alat dalam tangan-Nya untuk melakukan kebenaran. Yesuspun memberikan penegasan untuk tetap mengatakan kebenaran terhadap orang Farisi yang terus berupaya mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan Yesus, tetapi karena Yesus memberikan penjelasan tentang bagaimana hidup bertanggung jawab terhadap kaisar dan terhadap Tuhan maka akhirnya mereka mengerti makna tanggung jawab yang sesungguhnya. Dengan demikian, orang Farisi sulit mempersalahkan kebenaran yang telah disampikan oleh Yesus.
Kitapun perlu meninggalkan kebisaaan lama lalu kita hidup dalam pikiran dan kehidupan baru, bahwa sebagai orang yang telah dipilih dan dibaharui dalam Tuhan, pemazmur mengajak kita untuk bermazmur menghormati Allah dalam wujud memuliakan Allah, sekaligus merupakan ajakan untuk mengatakan bahwa katakanlah yang baik tentang Dia, agar kita dapat membawa orang lain untuk mengenal tentang Dia."
Terkait dengan minggu pemuda, maka selaku pemuda yang hidup dalam masyarakat berbangsa dan bernegara, maka hendaklah pemuda memiliki tanggungjawab yang menghargai tanggunggungjawabnya sebagai warga negara dan tanggungjawabnya terhadap gereja sebagai warga gereja. Itu berarti bahwa pemuda hendaknya menjadi alat untuk memperkenalkan Allah dalam bentuk melibatkan diri dalam mewartakan kebenaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, lalu kemudian berupaya memberi hidupnya dalam bentuk melibatkan diri dalam pelayanan gereja. Hal ini penting oleh karena pemuda yang berintegritas adalah pemuda yang memuliakan Allah serta siap pergi mengabarkan Injil dalam sikap dan tindakan nyata dalam hidupnya.
Diposting tanggal 22 Oct 2017
