Bahan Khotbah Minggu Ke-25 Tanggal 21 Juni 2020 JANGAN KAMU TAKUT Da’ ammi Mataku’

Bahan Khotbah Minggu Ke-25 Tanggal 21 Juni  2020
JANGAN KAMU TAKUT
Da’ ammi Mataku’

Bacaan Mazmur : Mazmur 86:1-10 
Bacaan 1   : Kejadian 21:8-21 (Bahan Utama)
Bacaan 2   : Roma 6:1-14
Bacaan 3 : Matius 10:34-42
Nas Persembahan   : Ulangan 12:11
Petunjuk Hidup Baru : Matius 10:31-32

Tujuan:

  1. Jemaat menyadari penyertaan Tuhan dalam kondisi tersulit sekalipun
  2. Jemaat tetap hidup dalam kesetiaan pada Tuhan

Pemahaman Teks
Kejadian pasal 21:8-21 sesungguhnya merupakan pengulangan dari apa yang sudah dikemukakan dalam Kejadian 17, yakni tentang kedudukan Ishak dan Ismael. Dalam penantian yang diliputi keraguan, ada saja terbersit keinginan Abraham untuk menjadikan Ismael sebagai anak perjanjian yang juga akan menjadi ahli warisnya kelak. Kepada Allah, Abraham berkata,  "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" (Kej.17:18). Permintaan Abraham ini sendiri bukanlah hal yang aneh pada masa itu, sebab terkadang orang-orang kaya yang tak memiliki keturunan, memang bisa saja mengangkat seorang anak sebagai ahli warisnya. Ismael jelas lebih dari seorang anak angkat, sebab Ismael adalah anak kandung Abraham juga, bahkan merupakan putra yang tertua (Walter Brueggemann, Genesis, hlm.183). Alasan Sarai saat meminta Abraham menghampiri Hagar, juga menegaskan hal tersebut: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai (Kej.16:2). Dalam hal ini, meskipun dilahirkan oleh Hagar, namun Ismael tetap saja bisa dipandang sebagai anak Sarai sendiri.

Namun demikian, sikap dan rencana Tuhan jelas tidak berubah. Seperti yang sudah diucapkan pula dalam Kejadian pasal 17, Tuhan memang tetap akan memberkati Ismael. Tuhan akan membuat Ismael beranak cucu, bahkan melahirkan 12 orang raja. Namun demikian, perjanjian (Ibr. berith) hanya akan dilakukan dengan Ishak, yakni anak Abraham yang dilahirkan dari Sara, istrinya (Bnd. Kej.17:20-21). Menerima berkat dan menjadi anak perjanjian ternyata merupakan dua hal yang berbeda. Oleh sebab itu, Kejadian 21:9-21 hendaknya juga dipahami dalam bingkai penggenapan rencana dan janji Allah bagi Abraham yang sudah diucapkan jauh sebelumnya. Merestui usulan Sara untuk mengusir Hagar dan Ismael bukanlah sebuah bentuk ketidakpeduliaan Allah bagi nasib Hagar dan Ismael, tetapi agar janji Tuhan dapat tergenapi secara sempurna. Ismael sendiri tidaklah dibiarkan oleh Allah untuk binasa. Sebaliknya, seperti yang sudah diucapkan oleh Allah sebelumnya, Ismael dan Hagar ibunya juga akan dipelihara dan diberkati Allah secara luar biasa.

Sehubungan dengan itu, makna perjanjian antara Allah dan Abraham, yakni yang terwujud dalam diri Ishak, menjadi hal yang penting untuk dipahami. Menjadi anak atau umat perjanjian, jelas bukan hanya soal beroleh berkat materi dan keturunan sebagaimana yang diberikan bagi Ismael. Menjadi anak perjanjian juga bukan hanya soal memiliki darah daging sebagai keturunan Abraham, yakni manusia yang dipilih dan beroleh janji dari Tuhan (Kalau hanya soal ini, Ismael pun bisa jadi anak perjanjian). Menjadi anak perjanjian jelas lebih dari itu, yakni bagaimana melihat rencana penyelamatan Allah bagi bangsa-bangsa, bisa digenapi secara sempurna sebagaimana yang sudah ditetapkan sejak semula, yakni tergenapi dalam diri Ishak, anak yang dilahirkan dari Sara. Kepada Abraham, Allah mengatakan, "Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka" (Kej.17:8). Memang ada janji tentang tanah. Namun seperti yang dikemukakan oleh Brueggemann, perjanjian (Ibr. berith) untuk menjadi Allah bagi mereka, sesungguhnya menjadi hal yang jauh lebih mendasar (Brueggemann, Genesis, 154). Itu pula sebabnya, Rasul Paulus menyebut jemaat di Galatia sama dengan Ishak, "Dan kamu saudara-saudara, kamu sama seperti Ishak adalah anak-anak janji" (Gal.4:28). Dalam hal ini, Kristuslah yang dipahami sebagai kelanjutan keturunan Abraham: Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus (Gal.3:16).

Jika perikop ini dihubungkan dengan tiga bacaan lainnya, maka cukup jelas terlihat keterhubungan sebuah gagasan, yakni tentang kepastian pengharapan dan penggenapan janji Allah dalam kehidupan umatNya. Injil Matius 10:24-39 menegaskan janji Tuhan Yesus kepada para murid yang diutus olehNya. Para murid diyakinkan agar tidak perlu kuatir, meskipun tugas yang diberikan amatlah berat. Tuhan Yesus menjaminkan pemeliharaan Allah dalam kehidupan umatNya. Surat Roma 6:1-11 pun demikian. Bukan hanya soal kehidupan di masa kini, tetapi oleh Rasul Paulus juga disampaikan jaminan kebangkitan dan kehidupan kekal bagi mereka yang bertahan dan turut dibaptis dalam kematian Kristus. Jaminan pemeliharaan Tuhan ini tentu harus dipegang dengan sungguh, agar sama seperti doa dalam Mazmur 86:1-10, kita juga dapat mengucapkan dengan yakin, sebuah doa permohonan kepada Tuhan untuk terus menjaga dan memelihara kehidupan hamba yang dikasihi-Nya.

Garis Besar Khotbah
Tema Jangan Kamu Takut, serta dramatisnya kisah pemeliharaan Tuhan bagi Hagar dan Ismael, jelas melahirkan sebuah pertanyaan awal yang amat mendasar, yakni seberapa hebat pemeliharaan Tuhan yang secara sengaja ingin diperlihatkan oleh Tuhan bagi Abraham dan juga bagi kita melalui kisah Hagar dan Ismael, yakni yang pada gilirannya dapat membuat Abraham dan juga kita tidak perlu takut dalam menjalani kehidupan ke depan? Bisa dipahami kegundahan hati Abraham saat mendengar keinginan Sara mengusir Hagar dan juga Ismael. Sebagaimana yang dikemukakan dalam ayat 11: Abraham sama sekali tidak senang dengan usul itu, karena Ismael adalah anaknya juga (Terjemahan BIS). Selain karena Ismael adalah anak kandungnya sendiri yang sudah menemani Abraham sekian tahun lamanya (Kej.17:24-26 : Abraham dan Ismael disunat bersama, yakni saat Abraham berusia 99 tahun dan Ismael 13 tahun), kegundahan hati Abraham jelas terkait pula dengan nasib anak ini selanjutnya. Betapa tidak, Ismael dan ibunya harus keluar dari rumah Abraham, ayahnya yang selama ini memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan perlindungan bagi mereka. Ismael segera akan menjadi anak yang bertumbuh tanpa kehadiran seorang ayah. Dan bukan hanya itu. Tempat yang akan dituju pun sama sekali tak jelas, sebab satu-satunya yang jelas adalah perintah untuk segera keluar dari rumah Abraham. Tak heran jika kemudian dikisahkan, "maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba" (ay.14).

Kata mengembara (Ibrani: ta'ah), secara harafiah juga dapat dipahami sebagai perjalanan yang tanpa arah dan penuh dengan kebimbangan. Ismael dan Hagar akan segera masuk dalam kehidupan penuh tantangan dan ketidakpastian. Kondisi padang gurun Bersyeba juga jelas memperlihatkan dahsyatnya ancaman kehidupan yang akan dilalui. Selain kekeringan dan ketiadaan tempat menetap, padang gurun juga menyimpan ancaman binatang buas yang sewaktu-waktu dapat membinasakan. Karena itu, bekal sang ibu dengan putranya berupa sekantong roti dan sekirbat air, jelaslah tidak akan berarti apa-apa di depan hamparan padang gurun Bersyeba. Tak heran jika ancaman kematian pun segera jadi kenyataan. 

Namun demikian, menarik memperhatikan cara Allah menyelamatkan dan memelihara mereka. Yang pertama, ialah jawaban Allah bagi seruan dan tangisan Hagar beserta Ismael. Padang gurun adalah hamparan kosong dan kering tanpa tanda kehidupan. Seruan dan tangisan sekeras apapun hanyalah sebuah kesia-siaan, sebab tak akan terdengar oleh siapapun. Namun demikian, Tuhan ternyata mendengar. Ketika Hagar dan Ismael merasa tangisan mereka tak akan berarti apa-apa, selain menjadi tangis akhir di ambang kematian, alkitab ternyata memberi kesaksian yang berbeda. Tuhan ternyata mendengarkan. Seruan dan tangisan sang anak, sampai ke telinga Tuhan. Hal ini ternyata sejalan pula dengan arti nama Ismael, yakni Allah mendengarkan, seperti yang dikemukakan oleh malaikat Tuhan kepada Hagar pada kisah sebelumnya, bahwa "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu" (Kej.16:11). Allah mendengarkan! Itulah sebabnya Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring (Kejadian 21:17). Begitu jelas, betapa Tuhan mendengarkan seruan dan tangisan umat-Nya, bahkan ketika kita sendiri mungkin berpikir bahwa tak ada seorang pun lagi yang mau mendengarkan keluhan dan tangisan tersebut. Penderitaan dan pergumulan yang dialami ternyata bukanlah penderitaan yang luput dari pandangan Allah. Perjalanan di padang gurun Bersyeba bukanlah perjalanan seorang diri tanpa penyertaan Tuhan.

Selain mendengar dan menjawab seruan Hagar beserta Ismael, hal kedua  ialah cara Allah bertindak menyelamatkan mereka. Tidak hanya menjawab, Allah pun segera bertindak menyelamatkan mereka, yakni dengan menyediakan sumur bagi Hagar dan Ismael. Adanya sumur di padang gurun, jelas merupakan hal yang luar biasa. Padang gurun umumnya identik dengan kekeringan dan kelaparan. Kisah eksodus bangsa Israel dari tanah Mesir dan menuju tanah Perjanjian melalui padang gurun, yakni yang sarat dengan pergumulan di sekitar masalah makan dan minum, dapat memperlihatkan hal tersebut (Bnd. Kel.16:3). Karena itu, bagi Abraham, Hagar dan Ismael, padang gurun Bersyeba mungkin merupakan tempat yang menakutkan dan mematikan. Namun ternyata tidak demikian bagi Tuhan. Padang gurun justru dapat menjadi tempat Tuhan menyatakan kuasa dan kasihNya secara ajaib. Itu sebabnya Tuhan meminta Abraham agar tidak perlu ragu menyuruh Hagar dan Ismael untuk pergi demi menggenapi janji Tuhan, sebab di padang gurun sekalipun, Tuhan pasti memelihara. Lebih jauh lagi, amat menarik memperhatikan bagaimana Tuhan menyediakan sumur bagi Hagar dan Ismael. Dalam ayat 19 dikatakan, Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur. Dalam  perjalananan penuh ketidakpastian dan kekeringan di padang gurun, tanpa disadari oleh Hagar dan Ismael, Tuhan ternyata tetap membimbing langkah kaki mereka berdua hingga ke dekat sebuah sumur yang kemudian menjadi sumber hidup mereka. Tidakkah ini merupakan hal yang luar biasa? Saat kita merasa tak tahu harus berjalan ke arah mana, Tuhan ternyata terus menuntun langkah kita ke arah kehidupan. Karena itu, yang dibutuhkan sesungguhnya ialah mata dan hati yang dibuka oleh Tuhan agar mampu melihat kasih dan pemeliharaanNya lebih jauh lagi.

Kelanjutan kehidupan Ismael dapat menegaskan kelanjutan pemeliharaan Allah ini. Ismael bertumbuh dan menjadi seorang pemanah. Saat Abraham, ayahnya meninggal dunia, Ismael hadir dan turut bersama Ishak memakamkan ayah mereka (Kej.25:9). Ia kemudian hidup hingga usia 137 tahun dan dikaruniai sejumlah 12 anak yang menjadi raja bagi masing-masing sukunya.

Pertanyaan terakhir yang menarik untuk direnungkan, ialah mengapa Allah juga berkenan memelihara Ismael? Bukankah yang menjadi anak perjanjian adalah Ishak, anak yang lahir dari Sara, istrinya? Allah sesungguhnya bisa saja lepas tangan, khususnya bila mengingat bahwa kehadiran Ismael sesungguhnya tak lepas dari keraguan Abraham dan Sara terhadap janji Tuhan (Bnd. Kej.16:2). Tentang hal ini, menarik memperhatikan alasan yang dikemukakan oleh Allah. Kepada Abraham, Allah berkata,  "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu" (Kej.21:12-13). Begitu jelas terlihat, bahwa alasan Tuhan memelihara Ismael, ialah karena Ismael pun adalah anak Abraham. Dalam hal ini, keberadaan Abraham sebagai orang yang dipanggil, dipilih dan diutus Tuhan untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, merupakan sebuah hal yang teramat penting. Tuhan tidak hanya memanggil dan mengutus umat-Nya, tetapi juga memastikan pemeliharaan Tuhan bagi anak-anak mereka, bagi segenap keturunan mereka. Panggilan dan pilihan Tuhan bagi umatNya bukanlah sebuah panggilan dan pilihan kosong tanpa makna. Sebaliknya ini adalah panggilan yang penuh dengan pengharapan dan kepastian pemeliharaan Tuhan. 

Jika pemeliharaan Tuhan bagi Ismael ini dihubungkan dengan keberadaan Ishak sebagai anak perjanjian, maka bisa dipastikan besarnya kasih setia Tuhan bagi anak-anak perjanjian-Nya. Jika Ismael saja dipelihara demikian hebat, jelas betapa luar biasanya pula kepastian pemeliharaan Tuhan bagi anak dan umat perjanjian-Nya, yakni umat yang ditebus dalam Yesus Kristus (bnd. Gal.3:16). Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus makin menegaskan kepastian pengharapan umat Tuhan ini. Mati bersama Kristus juga menjaminkan kebangkitan dan kehidupan dalam Kristus. Seperti yang dikemukakan oleh Rasul Paulus, sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya (Rm.6:5).

Tuhan pasti selalu menjaga dan memelihara umat-Nya. Itu sebabnya, kepada kedua belas rasul yang diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16), Tuhan Yesus menyampaikan sebuah pesan pasti untuk tidak perlu takut. Para murid akan dijaga oleh Allah, lebih dari cara Allah memelihara burung pipit. Kepada para murid, Yesus mengatakan, "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit" (Mat.10:29-31). Begitu jelas, bahwa jika seekor burung pipit yang demikian murah saja dijaga oleh Allah, maka diri umat pilihanNya yang tentu jauh lebih berharga dari banyak burung pipit, pasti akan dijaga dan dipelihara oleh Allah.


Diposting tanggal 18 Jun 2020

Daftar Artikel

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah waktu kemuliaan Yesus. Karena Yesus adalah utusan All.....

Selengkapnya ..

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat satu-satunya ia dapat menemukan pembebasan dan ke.....

Selengkapnya ..

In the field of Biblical study there have appeared many suggestions as to what is the central theme .....

Selengkapnya ..

Gereja mungkin mengecewakan. Gereja mungkin membosankan. Gereja mungkin melakukan kesalahan. Namun s.....

Selengkapnya ..

"Suaraku paling merdu," ujar katak. Memang paling merdu sebab ia berada di bawah tempurung.....

Selengkapnya ..

Sebetulnya dengan orang yang tidak bertalian keluarga pun kita bisa berkerabat jika kita akrab denga.....

Selengkapnya ..

Selama kita hidup selama itu kita masih belajar. Dari belajar mempercayakan diri dan belajar tahu di.....

Selengkapnya ..

Buku yang tersaji dihadapan kita ini adalah seleksi teks-teks terpilih hasil jerih Pdt. Eka Darmaput.....

Selengkapnya ..

Jika kita merasa tahu dan pandai berdoa, itu berarti kita berasumsi melebihi Rasul Paulus. Bayangkan.....

Selengkapnya ..

Eka dilahirkan dengan nama The Oen Hien sebagai anak sulung dari dua bersaudara dalam sebuah keluarg.....

Selengkapnya ..

Teman, bukankah lebih mudah jika kita melepaskan setiap masalah yang lalu, dan menatap hari esok den.....

Selengkapnya ..

"Yang mana engkau, anakku?" sang ayah bertanya. "Ketika penderitaan mengetuk pintu hi.....

Selengkapnya ..

Cari Artikel

Kategori Artikel

Bahan renungan yang dapat dijadikan bahan Saat Teduh, disadur dari tulisan para pendeta Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Renungan Harian
Khotbah Pendeta-pendeta dalam Gereja Toraja
Tampilkan Artikel Khotbah
Humor Rohani yang dapat membuat anda tertawa dan disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Humor Rohani
Kisah dan cerita inspiratif yang dapat dijadikan ilustrasi dalam khotbah, disadur dari berbagai sumber
Tampilkan Artikel Ilustrasi
Tulisan, Uraian, dan teks-teks, diseputar masalah-masalah Teologia
Tampilkan Artikel Teologi
Buku-buku teologi dalam bentuk digital, yang dapat menambah wawasan berteologi.
Tampilkan Artikel Literatur Digital
Bahan-bahan Khotbah Ibadah Hari Minggu, Hari Raya Gerejawi dan Ibadah Rumah Tangga Gereja Toraja yang disadur dari Buku Membangun Jemaat
Tampilkan Artikel Membangun Jemaat

Artikel Terbaru

Membangun Jemaat

Bahan Khotbah Minggu Ke-50 ...

Yohanes 1:1-9; 19-28 menguraikan bahwa dalam ayat ...

Renungan Harian

Senin, 14 Desember 2020 E ...

Kadanna Puang nakua, batta’komi lan Puang si ...

Khotbah

Memuliakan Allah Dengan Ka ...

Dalam Injil Yohanes, waktu kematian itu adalah wak ...

Teologi

Gereja Toraja dan Misinya ...

Sebagai lembaga gereja yang cukup besar di daerah ...

Literatur Digital

Doa Sang Katak 1 ...

Meskipun hati manusia merindukan Kebenaran, tempat ...

Ilustrasi

Jangan Cepat Menghakimi .. ...

Sebenarnya Pemuda Kaya ini membeli sebuah karcis k ...

Humor Rohani

Doa Yang Tulus ...

Suatu hari seorang anak sekolah minggu dengan terg ...