Rantepao – Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja mengambil langkah cepat menyikapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Toraja dan meluas hingga berbagai daerah di Indonesia. Langkah tersebut diwujudkan melalui rapat koordinasi gerak cepat yang mempertemukan CCGT, Satpol PP dan Damkar Toraja Utara, PP PPGT, KPH, Manggala Agni, serta sejumlah OKP, bertempat di Aula Tongkonan Sangullele, Kamis (15/10/2026).
Gerak cepat tersebut langsung disambut CCGT dan OIG dengan membuka Pos Pelayanan Bantuan. Bantuan segera disalurkan, khususnya logistik, vitamin, dan obat-obatan, kepada Satpol PP dan Damkar Toraja Utara yang telah berhari-hari tanpa lelah memadamkan api di berbagai titik. Kehadiran gereja di tengah situasi darurat ini merupakan wujud nyata pelayanan bersama dalam rangka mewujudkan Visi Gereja Toraja 2026-2031: Gereja Toraja Melayani Bersama Dalam Harmoni.
Ketua Umum BPS Gereja Toraja, Pdt. Dr. Alfred YR. Anggui, M.Th., menyampaikan harapan agar seluruh warga gereja mengambil bagian dalam pelayanan ini.
“Harapan besar bahwa kita semua mengambil bagian dalam pelayanan ini, saling menopang, meneguhkan dan mencegah kebakaran, terutama tidak membakar sampah.”
Ketua Crisis Gereja Toraja, Pdt. Yusuf Paliling, M.Th., mengajak semua pihak mendukung kerja para petugas di lapangan.
“Untuk itu mari kita support upaya-upaya yang telah dilakukan oleh teman-teman kita dari Damkar dan Satpol PP Toraja Utara, Manggala Agni, KPH agar persoalan ini dapat kita atasi bersama. Kami mengajak kita semua ketika di tempat kita terjadi kebakaran, mari memberi informasi, dan hadir memberi bantuan yang bisa kita kerjakan, sekalipun memang tentu bahwa upaya untuk penanganan itu bagian dari tanggung jawab teman-teman, karena itu butuh skill tertentu. Tetapi paling tidak mari kita memberi support, memberi informasi, termasuk mengenai titik air terdekat.”
Gerekan ini mengajak jemaat-jemaat terdekat, PWGT, PPGT, SMGT, PKBGT, bahkan seluruh warga jemaat untuk mensupport upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak pemerintah untuk pemadaman kobaran api. Mari kita kerjakan secara bersama-sama.
Kepala UPTD KPH Saddang II, Kornelia Pairunan, menyampaikan terima kasih kepada BPS Gereja Toraja atas keterlibatannya dalam pengendalian karhutla. Ia mengakui instansinya masih memiliki keterbatasan, baik dalam ketersediaan alat maupun personel.
“Mari bergerak bersama, selamatkan hutan kita, selamatkan keluarga dan diri sendiri dari bahaya kebakaran ini.”
Kepala Satpol PP dan Damkar Toraja Utara, Riantho Yusuf Sangkelo, S.Hut, menggambarkan beratnya tantangan di lapangan. Titik api tidak hanya berada di satu lokasi, sehingga petugas harus bekerja dari pagi hingga subuh setiap hari dengan peralatan yang sangat terbatas.
“Kami ucapkan terima kasih atas dukungan BPS Gereja Toraja, ini sangat membantu kami karena kondisi saat titik api itu bukan di satu titik tetapi banyak titik sehingga saya dan anggota benar-benar menghadapi tantangan yang berat. Kami bekerja dari pagi hingga subuh, dan itu terjadi setiap hari. Peralatan yang kami gunakan pun sangat terbatas, pelindung tubuh bahkan sudah tidak layak, terakhir pengadaan di kantor itu puluhan tahun lalu. Tetapi kami tetap semangat, dan berlapang dada menerimanya.”
Bahaya Karhutla dan Dampak Hilangnya Hutan
Karhutla membawa ancaman yang luas, mulai dari kesehatan hingga kelestarian lingkungan. Asap yang dihasilkan mengandung partikel halus dan gas berbahaya yang dapat memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit jantung. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Selain itu, asap dapat mengurangi jarak pandang, mengganggu aktivitas sehari-hari, dan membahayakan keselamatan di jalan. Api yang tidak terkendali juga mengancam permukiman, kebun, dan lahan pertanian warga, sehingga dapat merugikan mata pencaharian masyarakat.
Hilangnya hutan akibat kebakaran berdampak panjang bagi lingkungan sekitar. Hutan berfungsi menyerap dan menyimpan air hujan; ketika tutupan hutan rusak, daya serap tanah menurun, mata air menyusut, dan wilayah menjadi lebih rentan kekeringan di musim kemarau. Sebaliknya, saat hujan turun, tanah yang gundul mudah tererosi sehingga risiko banjir dan tanah longsor meningkat, terutama di daerah berlereng seperti Toraja. Kebakaran juga merusak lapisan tanah yang subur, memusnahkan habitat satwa dan keanekaragaman hayati, serta melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer yang memperburuk perubahan iklim. Pemulihan hutan yang terbakar membutuhkan waktu puluhan tahun, sementara kerugiannya langsung dirasakan masyarakat dalam waktu singkat.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah terpenting. Masyarakat diimbau tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, memastikan puntung rokok dan api unggun benar-benar padam, serta segera melaporkan kepada petugas bila melihat titik api. Kepedulian menjaga hutan merupakan bagian dari panggilan gereja untuk merawat ciptaan Tuhan. Melalui koordinasi dan aksi nyata ini, BPS Gereja Toraja berharap seluruh unsur pemerintah, gereja, dan masyarakat dapat terus bergandengan tangan menghadapi karhutla.