Warta Sinodal

Pembukaan PRAWIRA PKBGT, BPS Gereja Toraja Harapkan Pelayanan Nyata di Jemaat

28 October 2026 • Gereja Toraja • 14 kali dibaca
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, bersama Bupati Toraja Utara/Ketua PKBGT, Bupati Tana Toraja, Forkopimda, Ketua OIG, Ketua TP PKK
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, bersama Bupati Toraja Utara/Ketua PKBGT, Bupati Tana Toraja, Forkopimda, Ketua OIG, Ketua TP PKK Foto: Inforkom Gereja Toraja - Krisnawati Ranteallo

Persekutuan Kaum Bapak Gereja Toraja (PKBGT) menggelar Pembukaan PRAWIRA, Praya III, Pesparawi III, dan Rapat Kerja (Raker) V di Lapangan SMK Tagari, Tallunglipu, Rabu (28/10/2026).

Kegiatan dibuka dengan penabuhan gendang oleh Badan Pekerja Sinode (BPS) Gereja Toraja, Ketua PKBGT yang juga Bupati Toraja Utara, Bupati Tana Toraja, MPGT, BVGT, Forkopimda, Ketua OIG, serta Panitia PRAWIRA PKBGT Tahun 2026. Defile dari 89 klasis yang tersebar di enam wilayah pelayanan Gereja Toraja menjadi awal rangkaian pembukaan, dilanjutkan dengan ibadah yang dipimpin Ketua Umum BPS Gereja Toraja, Pdt. Dr. Alfred YR. Anggui, M.Th.

Dalam khotbahnya, Ketua Umum BPS menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di banyak tempat. Ia menyebut Kasatpol PP Toraja Utara telah mengajak anggota jemaat terlibat dalam penanganan karhutla, namun masih banyak masyarakat yang bersikap apatis.

“Banyak masyarakat yang apatis, tidak mau tahu, bahkan menyebut ini urusan pemadam kebakaran. Tanpa kita sadari, oksigen yang setiap saat kita hirup secara gratis itu bersumber dari hutan. Ada dua hal penting yang dihasilkan hutan, oksigen dan air. Kita pasti sudah merasakan bagaimana susahnya jika tidak ada air. Lalu apakah kita menunggu sampai hutan kita habis terbakar?”
 — Pdt. Dr. Alfred YR. Anggui, M.Th., Ketua Umum BPS Gereja Toraja

Ia juga menjelaskan alasan mengenakan hiasan kepala khas Kalimantan dalam ibadah tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan bentuk solidaritas kepada saudara-saudara di Kalimantan yang sudah empat bulan penuh dilanda kabut asap akibat karhutla. Ia sendiri bersama Direktur PT Sulo, Agus, turun ke lokasi karhutla di Nanggala dan baru satu setengah jam di sana sudah merasakan sesak napas. Beberapa gereja di Kalimantan, lanjutnya, telah bergerak membuat rumah tanpa asap yang sangat menolong warga. Ia berharap kaum bapak tidak apatis, tetapi justru berada di barisan terdepan dalam menghadapi karhutla.

Ketua PKBGT yang juga Bupati Toraja Utara mengapresiasi kehadiran dan semangat para peserta. Ia berharap semangat yang sama tampak dalam kehidupan bergereja dan kegiatan jemaat, serta mengajak seluruh peserta berkompetisi dengan satu komitmen untuk kemuliaan nama Tuhan.

“Saya lihat semua bersemangat, semoga di gereja dan kegiatan jemaat juga aktifnya sama. Selamat bertanding, berkompetisi, dengan satu komitmen bahwa semua untuk kemuliaan nama Tuhan.”
 — Frederik Victor Palimbong, S.T., S.M., M.Ak., Ketua PKBGT/Bupati Toraja Utara

Ketua Panitia PRAWIRA PKBGT 2026, Pnt. Paulus Tangke, S.Pak., M.Pd, menyebut kegiatan ini sebagai momentum bagi kaum bapak sebagai tiang keluarga. Ia menegaskan kehadiran peserta bukan sekadar formalitas, melainkan upaya menjawab pergumulan kaum bapak di rumah serta menguatkan peran mereka sebagai pemimpin rohani di keluarga, gereja, dan masyarakat.

“Ini sebuah momentum bagi kaum bapak sebagai tiang keluarga, apa pun yang kita sepakati bersama bisa terjadi. Kita hadir bukan sekadar formalitas, tetapi menjawab pergumulan kaum bapak di rumah, menguatkan kaum bapak sebagai pemimpin rohani, keluarga, gereja, dan masyarakat.”
 — Pnt. Paulus Tangke, S.Pak., M.Pd, Ketua Panitia PRAWIRA PKBGT 2026

Ia memaparkan, peserta berasal dari 89 klasis di enam wilayah pelayanan Gereja Toraja, dengan sekitar 6.000 peserta yang telah teregistrasi oleh panitia. Menjelang pembukaan, panitia juga telah melakukan aksi nyata di Jemaat Sampeong dan Jemaat To’tallang, Klasis Awan.

Melalui rangkaian kegiatan ini, kaum bapak Gereja Toraja diharapkan semakin kuat dalam persekutuan, peduli pada lingkungan, dan hadir sebagai teladan di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Visi Gereja Toraja 2026-2031: Gereja Toraja Melayani Bersama Dalam Harmoni.

Bagikan Warta Ini

Bagikan informasi ini kepada keluarga dan kerabat.

Pilihan Warta

Warta Lainnya