Majelis Gereja Toraja Jemaat Karambe’ bersama pemangku adat melaksanakan Ibadah Ma’pabendan Bate, Selasa (3/11/2026). Ibadah ini digelar dalam rangka merok tongkonan Potoksia dan Kamiri Buntupune, dengan tema “Kristus, Eran di Langi’ yang Sejati: Menegakkan Bate, Merawat Budaya, Membangun Persaudaraan”.
Pelayan Firman dalam ibadah tersebut, Pdt. Petranelius Rannu Paratte, S.Th, mengajak keluarga dan jemaat memaknai berdirinya bate sebagai peneguhan tekad bersama. Menurutnya, berdirinya bate menjadi saat untuk meneguhkan kembali komitmen menjaga persaudaraan, adat, dan iman.
“Ketika bate ini berdiri, teguhkan pulalah tekad kami untuk membangun persaudaraan, memelihara adat, menghidupi iman, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi mendatang,” ujar Pdt. Petranelius.
Ia menegaskan bahwa bate tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi dapat dibaca dalam terang iman Kristen. Bagi jemaat, bate yang berdiri mengingatkan pada Yesus Kristus sebagai Jalan, Eran, Kebenaran, dan Hidup.
“Setiap kami melihat bate yang berdiri, kami melihat Yesus yang adalah bate yang sejati, yang adalah jalan, eran, kebenaran dan hidup,” tuturnya.
Pdt. Petranelius juga menjelaskan cara pandang yang digunakan dalam menghubungkan tradisi Toraja dengan Alkitab. Keduanya tidak disamakan, melainkan dipertemukan melalui dialog yang saling menghormati.
“Karena itu kita tidak mengatakan bahwa tradisi Toraja dan Alkitab memiliki sejarah yang sama. Kita mempertemukan keduanya melalui dialog yang penuh hormat, dengan menyadari bahwa simbol budaya dapat dibaca kembali dalam terang Injil,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan merok tongkonan Potoksia dan Kamiri Buntupune masih akan berlangsung hingga puncaknya pada 7 November 2026. Ibadah Ma’pabendan Bate yang dipimpin Majelis Gereja Toraja Jemaat Karambe’ bersama pemangku adat ini menjadi gambaran kebersamaan gereja dan adat dalam merawat budaya serta membangun persaudaraan, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Visi Gereja Toraja 2026-2031: Gereja Toraja Melayani Bersama Dalam Harmoni.