FIRMAN, IMAN, KETAATAN, UJIAN, (Sukaran Aluk, Kapatonganan, Kamengkaolan, Pesudi)
Bahan Khotbah HUT Ke-70 Gereja Toraja Sabtu,25 Maret 2017
FIRMAN, IMAN, KETAATAN, UJIAN,
(Sukaran Aluk, Kapatonganan, Kamengkaolan, Pesudi)
| Mazmur | Mazmur 40:5-10 |
| Bacaan 1 | 1 Raja-Raja 19:1-8 (Bahan Utama) |
| Bacaan 2 | Filipi 1:3-11 |
| Bacaan 3 | Markus 16:15-20 |
| Nas Persembahan | Mazmur 119:108 |
| PHB | Amsal 13:13 |
Pengantar:
Kejadian 12, menggambarkan awal kisah tentang pemanggilan Abraham yang biasa kita sebut sebagai bapa orang beriman, kemudian lanjut pada Kejadian 13, nampak suatu pola yang konsisten tentang anugerah, iman dan Firman. Ayat 1-3 berbicara tentang Firman Tuhan yang kemudian menuntun kepada Iman. Ayat 4-6, Iman menuntun kepada Ketaatan. Ayat 7-9, Ketaatan menuntun kepada Berkat. Ayat 10-20, Berkat menuntun kepada Ujian, atau Berkat itu akan diuji. Menarik bahwa dalam pasal 13 ditunjukkan bahwa Abraham gagal dalam ujian, lalu dihukum, kemudian diampuni sebagai anugerah untuk Abraham melanjutkan panggilan hidupnya sebagai hamba Allah.
- Firman Tuhan menuntun kepada Iman (ayat 1-3)
- Iman menuntun kepada Ketaatan (4-6)
- Ketaatan menuntun kepada Berkat (7-9)
- Berkat menuntun kepada Ujian (10-20)
- Abraham gagal, dihukum, diampuni (Kej. 13)
Injil (Firman) datang di Toraja sesuai Matius 4:23; 9:35, “Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan”. Ini yang disebut Injil yang holistis, Injil yang membebaskan dalam paket Teaching (Pendidikan), Preaching (Khotbah), Healing (Kesehatam). Dengan pendidikan, orang Toraja dibebaskan dari keterbelakangan, kebodohan; dengan Khotbah tentang keselamatan yang sesungguhnya, orang Toraja dibebaskan dari penyembahan kepada allah yang tidak benar; dan dengan kesehatan, orang Toraja dibebaskan dari kuasa sakit penyakit. Paket Firman atau Injil yang holistis ini direspons oleh orang Toraja dengan iman. Firman menuntun kepada Iman. Lalu orang Toraja yang menerima Injil menjadi taat. Iman menuntun kepada Ketaatan. Kemudian nampaklah bagaimana orang Toraja menjadi orang yang diberkati Tuhan secara luar biasa, sebagaimana nampaknya orang Toraja sekarang ini. Coba bayangkan sekiranya Injil (Firman) itu tidak datang di Toraja. Ketaatan menuntun kepada Berkat. Dan ketika Orang Toraja hidup dalam keberkatan karena Injil (Firman), orang Toraja masuk dalam Ujian. Berkat menuntun kepada Ujian. Dalam pasal berikut dari kehidupan orang Toraja, akankah orang Toraja gagal dalam ujian seperti Abraham? Lalu dihukum, dan diampuni lagi? Atau akan lulus?
Ketika kita merayakan 100 Tahun Injil Masuk Toraja yang lalu, orang Toraja mengakui bahwa kini orang Toraja mengalami 7 krisis: Krisis BUDAYA, Krisis PENDIDIKAN, Krisis SUMBER DAYA MANUSIA, Krisis EKONOMI, Krisis PERTANIAN-PETERNAKAN, Krisis PARIWISATA, Krisis POLITIK. Artinya, ke-7 krisis ini menunjuk pada ujian berat yang sedang dihadapi oleh orang Toraja yang selama ini mengalami berkat Tuhan karena Injil itu. Ya, ujian berat. Dan kini kita merayakan 70 Tahun Gereja Toraja, Gereja yang Tuhan bentuk oleh kuasa Roh Kudus untuk menjadi alat Tuhan bagi orang Toraja menjalani kehidupannya sebagai orang yang diberkati oleh Tuhan. Salah satu tantangan terbesar orang Toraja dalam ujian itu adalah lahirnya “tuhan-tuhan baru” akibat dari kemajuan yang dialami oleh orang Toraja, yang kemudian diperhadapkan dengan Sang Firman yang telah menjadi daging sebagai satu-satunya Tuhan dan Juruselamat sebagaimana Pengakuan Iman Gereja Toraja. Bagaimana Gereja menghadapi semuanya itu?
Pemahaman Teks
Seperti nama kitab, 1 dan 2 Raja-Raja mencatat sejarah raja-raja Yahudi, dari Salomo sampai Zedekia. Pada awalnya, bangsa itu satu (1 Raja-Raja 1-11). Setelah kematian Salomo, bangsa itu pecah (1 Raja-Raja 12-22); lalu, kedua kerajaan itu diangkut sebagai tawanan (2 Raja-Raja). Suku-suku utara ditawan oleh Asyur (2 Raja-Raja 1-17), dan kerajaan selatan ditawan oleh Babel (2 Raja-Raja 18-25). Israel adalah bangsa yang sangat diberkati oleh Tuhan, tetapi terakhir dengan aib dan kekalahan. Penyebabnya ialah dosa. Salomo menyembah berhala bangsa-bangsa asing, dan bangsa Israel mengikutinya. Para nabi palsu dan imam-imam duniawi menyesatkan rakyat, hingga dalam kurun waktu satu generasi saja, bangsa itu sudah rusak dan terpecah. Para pemimpin dan rakyat, tidak mau mendengarkan nabi-nabi Tuhan dan tidak lagi beribadah kepada Yahweh sehingga tak ada lagi yang tersisa bagi Tuhan selain menghukum umat-Nya, seperti yang sudah diperingatkan-Nya (Ulangan 28).
Kisah Elia dalam 1 Raja-Raja 19:1-8 menjadi bagian dari kisah itu. Sebagaimana kita tahu dari kisah Elia, kemenangan Elia segera diikuti dengan kekalahan karena ia mulai melangkah berdasarkan apa “yang ia lihat dengan mata kepalanya”, dan bukan dengan iman (ayat 3). Ia mempercayai kata-kata ratu, dan bukan Firman Tuhan. Ia lupa bagaimana Tuhan telah memeliharanya selama tiga setengah tahun. Ketakutan menggantikan iman, dan ia pun melarikan diri, wujud ketidaktaatan.
Elia menjadi lebih peduli untuk menyelamatkan diri ketimbang memberi diri, taat. Perhatikanlah urutan: “nyawamu” (2), “nyawanya” (3), “nyawaku” (4). Jika ia berkata, “Ambillah nyawaku,” sebagai tindakan penyerahan kepada Tuhan, Tuhan akan berkarya dalam kekuasaan-Nya. Namun, kata-kata Elia, “Ambillah nyawaku,” merupakan pernyataan kebanggaan sekaligus kekalahan. Waspadalah ketika kita berpikir bahwa kitalah satu-satunya orang setia yang tersisa!. Terkadang kita merasa begitu putus asa sebagai gereja dan pelayan tentang pekerjaan kita dan diri kita sehingga berharap bahwa Tuhan akan memanggil kita pulang. Kita jadinya “berani mati.” Tentu saja, seandainya Elia benar-benar mau mati, Izebel akan dengan senang hati menolongnya. Tidak susah. Namun, Elia bukanlah satu-satunya orang yang merasa seperti itu. Musa ingin mati (Bilangan 11:15), demikian juga Ayub (Ayub 3:20-21), Yeremia (Yeremia 8:3), dan Yunus Yunus 4:3). Tentu saja kematian bukanlah jawaban atas keputusasaan sebab hal itu egois dan tidak memuliakan Tuhan. Tuhan justru ingin kita “berani hidup” menghadapi berbagai persoalan yang kelihatannya semakin tidak sesuai dengan kehendak-Nya, berbagai krisis kehidupan.
Tuhan mengajar Elia bahwa, Dia tidak selalu bekerja di dalam peristiwa-peristiwa besar yang dramatis, seperti pertandingan di gunung Karmel. Tuhan juga bekerja melalui “angin sepoi-sepoi basa”, pelayanan-pelayanan yang tidak besar atau diketahui banyak orang. Elia tidak ditinggalkan, sebab Tuhan bersamanya. Ia tidak sendirian sebab ada tujuh ribu orang yang belum menyembah Baal. Pekerjaan Elia akan terus berlangsung sebab Tuhan mempunyai seorang pemuda yang siap menggantikannya. Perjalanan masih panjang. Nasib bangsa Israel dipertaruhkan di atas pundaknya di bawah bimbingan Tuhan karena itu, “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” (ayat 7).
Pokok yang dapat dikembangkan dalam khotbah
Karena itu, selain kita bersyukur atas HUT Gereja Toraja yang ke-70, kita harus tahu dengan sadar mengapa kita bersyukur, sebagaimana ucapan syukur dan doa Rasul Paulus untuk orang Filipi dalam Filipi 1:3-11. Tak lain dan tak bukan, dengan melihat kembali bagaimana Tuhan telah berkarya secara sangat luar biasa bagi orang Toraja yang kemudian dilanjutkan-Nya dalam diri Gereja Toraja. Banyaklah yang telah Engkau lakukan ya Allahku untuk orang Toraja (Mazmur 40:5-10). Dan Gereja Toraja dan para pelayan Tuhan sering mengalami nasib seperti Elia. Dan juga sering bersikap seperti Elia. Sekarang ini begitu banyaknya “izebel-izebel” yang menantang dan menentang panggilan Gereja Toraja. Begitu banyaknya “baal-baal” baru yang dipertuhankan oleh orang Toraja. Tetapi pengutusan murid-murid untuk melaksanakan PI (Pekan PI) sebagai hakikat Gereja mesti terus dilakukan, apapun kenyataan yang terjadi, baik atau tidak baik, Firman Tuhan, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” (2 Tim.4:2). Bangunlah...Makanlah...Berani hidup untuk Firman... sebagai wujud ketaatan pada Firman yang telah menjadi Daging itu dalam diri Yesus Kristus.
Diposting tanggal 28 Feb 2017
